SIDOARJO – Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, bukan dengan benar-benar berhenti bergerak, melainkan justru dengan berlari.
Bagi David Eko Susanto, General Manager Aston Hotel Kahuripan Sidoarjo, berlari menjadi cara sederhana untuk melepas penat, menata pikiran, dan menikmati waktu bersama diri sendiri.
Baca Juga: Pink Morning Club dan Road to Give 2026 Ajak Warga Surabaya Bergerak Peduli Kanker Payudara
Di tengah kesibukannya mengelola operasional hotel, David menemukan ruang itu di antara langkah-langkah kaki yang terus bergerak. Tak selalu harus mengejar catatan waktu atau menuntaskan jarak tertentu. Baginya, menikmati proses sudah cukup menjadi alasan untuk terus berlari.
“Bagi saya, berlari bukan hanya tentang seberapa jauh jarak yang bisa ditempuh atau seberapa cepat waktu yang bisa dicatat,” ujar David, Jumat (23/10/2026).
Kesederhanaan menjadi salah satu hal yang membuatnya jatuh hati pada olahraga ini. Lari bisa dilakukan hampir di mana saja, tidak membutuhkan banyak perlengkapan, dan waktunya relatif mudah disesuaikan dengan aktivitas sehari-hari.
Namun, ada hal lain yang membuat David bertahan. Ketika tubuh bergerak dan pikiran perlahan terlepas dari urusan pekerjaan, ia justru kerap menemukan sudut pandang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
“Saya menikmati momen ketika bisa berlari tanpa harus selalu mengejar target tertentu. Ya, bergerak, sekadar bergerak dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berpikir lebih jernih,” tuturnya.
Dari situ, David memahami bahwa lari bukan semata-mata tentang menjaga kebugaran. Ada kesempatan untuk mengenali diri sendiri, memahami batas kemampuan, sekaligus belajar menikmati waktu tanpa harus selalu berorientasi pada hasil.
Langkah Kecil yang Membawanya Lebih Jauh
Perjalanan David di dunia lari bermula setelah pandemi COVID-19, sekitar 2021. Saat itu, ia memulainya dengan jarak yang terbilang sederhana, sekitar 2 hingga 2,5 kilometer.
Tidak ada ambisi besar pada awalnya. Ia hanya ingin mulai berolahraga dan membangun kebiasaan baru. Jarak pendek itu dijalani perlahan, tanpa tuntutan untuk segera mencapai sesuatu.
Seiring waktu, jarak tempuhnya bertambah. Apa yang awalnya sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran perlahan berkembang menjadi perjalanan yang membawanya menghadapi tantangan baru.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi pada 2023, ketika David memberanikan diri mengikuti Mangkunegaran Run di kategori half marathon 21 kilometer putra. Jarak tersebut menjadi pencapaian tersendiri setelah sebelumnya ia terbiasa berlari dalam rute yang lebih pendek.
“Bagi saya, pencapaian tersebut menjadi pengalaman berkesan karena menunjukkan bagaimana sesuatu yang dimulai dari langkah kecil dapat berkembang menjadi tantangan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan,” kenangnya.
Pengalaman itu membuatnya semakin menikmati dunia lari. Bukan karena harus selalu mencatatkan pencapaian yang lebih tinggi, melainkan karena ia mulai memahami bahwa konsistensi dapat membawanya melampaui batas yang sebelumnya terasa jauh.
Dari sana, lari menjadi bagian dari kesehariannya. Ada hari-hari ketika ia berlari untuk menjaga kebugaran, ada pula saat ketika aktivitas tersebut menjadi cara untuk mengurai kepenatan setelah menjalani rutinitas pekerjaan.
Ketika Jalan Raya Tak Lagi Menjadi Batas
Mulanya, David lebih akrab dengan road running, yakni berlari di jalan raya. Rutenya relatif mudah dijangkau dan cocok untuk membangun kebiasaan berlari secara konsisten.
Namun, semakin mengenal dunia lari, ia mulai tertarik pada pengalaman yang berbeda. Bukan lagi sekadar menapaki permukaan jalan yang relatif rata, melainkan menjelajahi jalur pegunungan dengan karakter medan yang lebih beragam.
Dari situlah ketertarikannya pada trail running tumbuh.
“Pengalaman berlari di pegunungan menawarkan tantangan yang berbeda dari berlari di jalan raya. Medannya lebih beragam, jalurnya memiliki karakter tersendiri, dan bonusnya adalah pemandangan alam yang menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri,” ungkapnya.
Pada 2025, David mencoba pengalaman trail running pertamanya melalui Siksorogo Lawu Ultra (SLU) pada kategori 30 kilometer.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ke sejumlah ajang lain, yakni Semarang Mountain Race sejauh 27 kilometer, Merbabu Sky Race 20 kilometer, dan Merbabu Trail Run 25 kilometer.
Setiap perjalanan menghadirkan cerita yang berbeda. Ada jalur dengan karakter medan tersendiri, perubahan kondisi lintasan, hingga pemandangan alam yang membuat pengalaman di satu gunung tidak pernah benar-benar sama dengan gunung lainnya.
Bagi David, rasa penasaran itulah yang membuat trail running semakin menarik. Selalu ada jalur baru yang ingin dijelajahi, karakter medan yang ingin dikenali, dan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
“Saya ingin melihat seperti apa jalurnya, bagaimana karakter medannya, dan apa yang membuat pengalaman di gunung tersebut berbeda dari gunung-gunung sebelumnya,” katanya.
Di pegunungan, berlari bukan sekadar soal kecepatan. Ada saat ketika seseorang harus menyesuaikan langkah dengan kondisi jalur, mengatur tenaga, dan menerima bahwa perjalanan tidak selalu berjalan sesuai perkiraan.
Justru di situlah David menemukan daya tariknya. Ia belajar bahwa mencapai garis finis memang menyenangkan, tetapi proses untuk sampai ke sana memiliki cerita yang tidak kalah berarti.
Perjalanan itu pun belum berhenti. David kini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti Siksorogo Lawu Ultra pada kategori 50 kilometer, yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Desember 2026. Jarak tersebut akan menjadi tantangan baru sekaligus pengalaman pertamanya menempuh 50 kilometer dalam trail running.
Bukan semata-mata untuk menambah daftar pencapaian, melainkan untuk kembali merasakan pengalaman baru dan melihat sejauh mana dirinya mampu menjalani proses tersebut.
Pertemanan yang Tumbuh di Sepanjang Perjalanan
Ada hal lain yang tidak pernah benar-benar direncanakan David ketika mulai menekuni lari: bertemu dengan banyak orang baru.
Dalam berbagai ajang lari, ia berkenalan dengan peserta dari beragam kota dan latar belakang. Obrolan yang awalnya sederhana, mulai dari rute, perlengkapan, hingga pengalaman mengikuti lomba, perlahan berkembang menjadi pertemanan.
Lingkaran pergaulannya pun bertambah luas, melampaui lingkungan pekerjaan yang selama ini menjadi bagian besar dari kesehariannya.
Sebagai seorang profesional di industri perhotelan, David menyadari bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu harus dimulai dari pertemuan formal atau kepentingan bisnis. Terkadang, kesamaan minat justru membuat orang lebih mudah terhubung.
Dari pertemanan yang terbangun secara alami, muncul kesempatan untuk saling bertukar informasi, berbagi pengalaman, bahkan membuka kemungkinan kolaborasi profesional di kemudian hari.
Menariknya, semua itu bukan tujuan awalnya berlari. David hanya ingin menikmati olahraga dan mencoba hal-hal baru. Pertemanan serta jaringan yang semakin luas datang sebagai bagian dari perjalanan yang ia jalani.
Pengalaman tersebut memberinya perspektif bahwa kehidupan profesional tidak harus selalu dibangun melalui agenda pekerjaan. Ada ruang-ruang lain yang memungkinkan seseorang mengenal orang lain secara lebih dekat, tanpa harus memulai dengan kepentingan tertentu.
Menikmati Perjalanan, Bukan Hanya Garis Akhir
Bagi David Eko Susanto, berlari telah berkembang menjadi lebih dari sekadar hobi. Aktivitas ini menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan di tengah kesibukan, menghadapi tantangan, sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal banyak hal baru.
Dari jarak 2 hingga 2,5 kilometer yang pertama kali ia tempuh, half marathon pertamanya, hingga pengalaman menjelajahi jalur pegunungan, setiap langkah membawa cerita tersendiri.
Tidak semua perjalanan harus dimulai dengan target besar. Terkadang, cukup dengan keberanian untuk mencoba dan kemauan untuk terus melangkah, seseorang bisa menemukan pengalaman yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Kini, masih ada banyak jalur yang ingin dijelajahi David dan tantangan yang menunggu untuk dicoba. Namun, di balik semua rencana itu, ia ingin tetap menjaga alasan sederhana yang membuatnya mulai berlari: menikmati prosesnya.
“Saya ingin terus menjalani proses ini, satu langkah demi satu langkah, tanpa kehilangan alasan sederhana yang membuat saya mulai berlari sejak awal, yaitu menikmati perjalanan itu sendiri,” pungkasnya.
Sebab, bagi David, garis finis bukanlah satu-satunya hal yang layak dirayakan. Ada proses, pertemuan, tantangan, dan pelajaran yang tumbuh di sepanjang perjalanan. Dan terkadang, justru di antara langkah-langkah itulah seseorang menemukan bagian dari dirinya yang selama ini belum sempat ia kenali.
Editor : Redaksi