Bupati Nganjuk dan Kadin Jatim Ingatkan Kader GMNI Tak Mudah Terjebak Hoaks

rizzmedia.id
Pelatihan Jurnalistik GMNI bersama Rumah Literasi Digital (RLD) yanh digelar di The Alana Hotel Surabaya, Jumat (16/10/2026). Foto: Rumah Literasi Digital.

SURABAYA – Bupati Nganjuk H. Marhaen Djumadi dan Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Tri Prakoso mengingatkan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) agar tidak mudah terjebak hoaks dan pembentukan opini tanpa dasar fakta.

Keduanya mendorong mahasiswa membangun nalar kritis dengan menguji informasi, membaca kepentingan di balik suatu peristiwa, serta menyampaikan kritik berbasis data.

Pesan tersebut disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik Batch #3 bertema Merawat Nalar Kritis dalam Penulisan & Jurnalisme yang digelar DPC GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di Hotel The Alana Surabaya, Jumat (16/10/2026).

Marhaen menilai, kemampuan literasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi arus informasi yang semakin kompleks. Menurut dia, pemahaman mengenai propaganda dan agitasi yang dipelajari dalam gerakan mahasiswa perlu diimbangi dengan keterampilan memeriksa informasi dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

“Banyak informasi yang mengandung hoaks, framing, maupun informasi dengan tujuan yang tidak jelas. Jika tidak memiliki kecakapan literasi dan kemampuan menyampaikan opini secara kritis, kita bisa terjerumus pada hal-hal yang kurang baik,” kata Marhaen.

Ia berharap pelatihan jurnalistik dapat terus dikembangkan dengan melibatkan Persatuan Alumni (PA) GMNI. Kolaborasi kader dan alumni dinilai dapat memperluas wawasan, membuka jejaring, serta memberikan ruang berbagi pengalaman bagi generasi muda yang tengah menjalani proses kaderisasi.

Menurut Marhaen, hubungan antara kader dan alumni perlu dibangun secara berkelanjutan, tidak sebatas pertemuan formal. Dengan begitu, proses pengembangan kapasitas mahasiswa dapat memperoleh dukungan dari berbagai pihak.

Sementara itu, Tri Prakoso menegaskan bahwa jurnalistik bukan semata-mata keterampilan yang dibutuhkan wartawan. Prinsip jurnalistik, seperti verifikasi fakta, pengamatan, dan pengujian informasi, juga relevan bagi mahasiswa yang aktif dalam gerakan sosial maupun terlibat dalam diskusi kebijakan publik.

“Belajar jurnalistik tidak berarti kita harus menjadi wartawan. Lebih dari itu, jurnalistik merupakan sarana untuk melatih nalar kritis, membaca situasi, menguji informasi, dan memahami motif di balik sebuah peristiwa,” ujar Tri.

Ia menggambarkan perkembangan informasi saat ini sebagai perang pikiran, ketika berbagai informasi dapat digunakan untuk membentuk opini dan memengaruhi cara pandang masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, Tri mengingatkan kader GMNI agar tidak berhenti pada sikap menerima atau menolak suatu kebijakan. Mahasiswa perlu memahami persoalan secara utuh, mengidentifikasi pihak yang diuntungkan, serta menilai dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Kritik, menurut dia, harus disertai argumentasi yang kuat dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Keterampilan jurnalistik juga perlu dipadukan dengan analisis akademik agar gagasan yang disampaikan tidak sekadar menjadi opini.

“Tujuannya bukan membela kelompok tertentu, melainkan memperjuangkan keadilan agar kepentingan masyarakat dan pemerintah dapat ditempatkan secara proporsional,” katanya.

Tri berharap kader GMNI mampu menyampaikan kritik secara objektif sekaligus menawarkan solusi berdasarkan fakta. Dengan demikian, kemampuan jurnalistik dapat menjadi bekal untuk mengawal persoalan publik secara lebih terukur.

Pelatihan yang diikuti puluhan peserta tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik produksi konten jurnalistik. Peserta belajar mengolah hasil pengamatan menjadi artikel dan konten digital dengan memperhatikan ketepatan informasi, sudut pandang pemberitaan, serta kebutuhan audiens.

Materi yang diberikan mencakup penulisan artikel berbasis search engine optimization (SEO), foto jurnalistik, peliputan aman (safe reporting), pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta pembuatan dan pengelolaan konten media sosial.

Dalam sesi praktik, peserta menjadikan Hotel The Alana Surabaya sebagai objek liputan. Mereka mengulas fasilitas hotel dan sejumlah pilihan kuliner yang ditawarkan dengan pendampingan William dari tim Marketing Communication The Alana Surabaya.

Melalui kegiatan tersebut, peserta berlatih menggali informasi, mengenali karakter objek liputan, dan menyusun materi yang informatif serta menarik. Praktik ini juga memberikan pengalaman mengenai proses produksi konten, mulai dari pengamatan hingga penyajian informasi kepada publik.

Lima pemateri turut memberikan pembekalan sesuai bidang keahlian masing-masing, yakni Koordinator Pewarta Foto Indonesia (PFI) Wilayah Indonesia Timur Ali Masduki, Direktur RLD Andika Ismawan, praktisi AI Filmmaker RLD Deni Edi Santoso, pegiat media sosial Eko Edi Rangkutih, serta pengembang web RLD Fatchur Rohman.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan Koordinator Bidang Invensi dan Inovasi BRIDA Jawa Timur Himawan Estu Bagijo serta Ketua PGRI Jawa Timur H. Djoko Adi Waluyo sebagai pembicara utama, bersama Marhaen Djumadi dan Tri Prakoso.

Sekretaris Jenderal GMNI Surabaya Raya Alif Susilo Yusuf Hadiwijoyo mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan pelatihan. Ia bersyukur kegiatan berlangsung lancar dan memberikan tambahan pengetahuan kepada para peserta.

“Saya bersyukur acara ini bisa berjalan dengan lancar dan 28 peserta mendapatkan tambahan ilmu serta wawasan baru. Saya juga mengapresiasi kehadiran tiga alumni yang berkenan hadir dan memberikan sambutan,” kata Alif.

Ia menilai dukungan dari berbagai pihak menjadi dorongan bagi kader untuk terus mengembangkan kemampuan, khususnya dalam penulisan, jurnalistik, dan pengelolaan konten digital.

Alif secara khusus mengapresiasi dukungan Hotel The Alana Surabaya yang membantu penyelenggaraan kegiatan. Ia berharap kolaborasi GMNI Surabaya Raya, RLD, dan The Alana Surabaya dapat berlanjut melalui berbagai program pengembangan kapasitas mahasiswa.

Pelatihan Jurnalistik Batch #3 menjadi salah satu upaya GMNI Surabaya Raya dan RLD untuk mempertemukan kemampuan teknis produksi konten dengan pembentukan pola pikir kritis.

Melalui perpaduan teori dan praktik lapangan, kader diharapkan mampu memverifikasi informasi, menyusun argumentasi berbasis data, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru